Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Tingkat kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Bahkan ketika angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) justru melejit.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Menaker) tercatat tingkat PHK di Indonesia per 2025 mencapai 88.519 orang. Jumlah tersebut naik 10.554 orang dibandingkan jumlah PHK pada 2024 sebanyak 77.965 orang.
Bahkan, jika dibandingkan pada empat tahun silam, jumlah karyawan kena PHK mencapai 63.405 orang, dibandingkan jumlah PHK pada 2022 sebesar 25.114 karyawan.
Di sisi lain, angka tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami tren penurunan pada lima tahun terakhir. Menurut Badan Pusat Statistik, angka penduduk miskin di Indonesia pada September 2025 mencapai 23,36 juta orang atau persentase penduduk miskin sebesar 8,25%.
Jumlah tersebut turun signifikan dibandingkan pada 2021 dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 26,50 juta jiwa dan persentase penduduk miskin sebesar 9,71%.
Direktur Statistik Ketahanan Sosial Nurma Midayanti mengatakan sebenarnya ada kontribusi PHK terhadap angka kemiskinan.
Namun juga perlu dilihat apakah ada sumber penghasilan lain untuk karyawan yang kena PHK bisa bertahan hidup sementara, seperti tabungan, pesangon, atau sumber lain.
"Jadi PHK memang sebenarnya ada risiko untuk berkaitan dengan kemiskinan, tetapi perlu kita juga lihat bahwa ketika seseorang di PHK apakah dia punya sumber-sumber lain, misalnya ada, dia masih punya tabungan kemudian, atau dia terima pesangon, sehingga dalam beberapa waktu mungkin dia masih bisa bertahan. Karena kan yang kita pentingkan untuk menghitung kemiskinan itu lebih kepada konsumsi," katanya saat memberikan Workshop bertajuk Pemanfaatan Data Strategis BPS, di kantor BPS Pusat, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).
Nurma kembali menegaskan bahwa ada pengaruh PHK yang terjadi namun efeknya kecil terhadap angka kemiskinan.
"Jadi ketika dia PHK dampak langsung kemiskinan tidak terlalu kuat," katanya.
Nurma menambahkan, jika karyawan yang terkena PHK tersebut kemudian tidak lagi bisa mendapatkan penghasilan sehingga berpengaruh terhadap konsumsi dalam jangka waktu panjang, hal itu akan meningkatkan potensi jatuh dalam kemiskinan.
"Tetapi ketika dia tidak ada sumber-sumber lainnya sudah tidak bisa banyak makan jadi berkurang, pembelian-pembelian untuk non-makanan itu jadi berkurang, karena dia PHK-nya sudah setahun gitu, nah itu potensi bisa jatuh kemiskinan," imbuhnya.*