Dari Ribuan Anak yang Dicurigai, Hanya 532 Terdiagnosis Stunting di Pekanbaru

7 Oktober 2026
Ibu dan buah hatinya mendapat bantuan susu SGM dari Dinkes Pekanbaru sebagai asupan gizi guna mencegah stunting. Foto: Istimewa.

Ibu dan buah hatinya mendapat bantuan susu SGM dari Dinkes Pekanbaru sebagai asupan gizi guna mencegah stunting. Foto: Istimewa.

RIAU1.COM -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mencatat jumlah anak yang terdata dalam penanganan stunting mengalami perubahan signifikan. Perubahan jumlah anak stunting ini muncul setelah melalui proses pendataan, validasi, hingga penegakan diagnosis oleh dokter spesialis anak.

Kepala Dinkes Pekanbaru Hazli Fendriyanto di Kantor PSC 119, Rabu (7/10/2026), mengatakan, terdapat sekitar 281 anak yang tercatat dalam data stunting pada 2024. Kemudian, angka tersebut berubah setelah dilakukan pendataan secara lebih luas melalui kader posyandu. Pada Agustus 2025, melalui kegiatan sweeping stunting menggunakan aplikasi Stunting Sweeper, ditemukan sebanyak 3.052 anak yang masuk dalam pendataan awal.

"Karena, para kader posyandu melihat anak pendek, kurus, atau berat badannya kurang, langsung dicurigai stunting. Jadi, angka pada Agustus 2025 mencapai 3.052 anak," ujarnya.

Namun, angka tersebut belum merupakan jumlah anak yang telah mendapatkan diagnosis stunting. Lalu, Dinkes melakukan validasi melalui penanggung jawab (PJ) gizi di seluruh puskesmas.

Hasil validasi pada November 2025 menyisakan 1.165 anak. Selanjutnya, anak-anak tersebut menjalani pemeriksaan di poli stunting untuk mendapatkan penegakan diagnosis dari dokter spesialis anak.

"Untuk menyatakan seorang anak stunting atau tidak, kewenangannya ada pada dokter spesialis anak. Jadi, bukan kader posyandu, petugas gizi, maupun dokter umum," jelas Hazli.

Dari 1.165 anak yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 532 anak dinyatakan stunting berdasarkan penegakan diagnosis dokter spesialis anak. Data tersebut dilaporkan melalui aplikasi Sigizi Kesga milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Data 532 ini adalah anak yang benar-benar sudah terverifikasi dan masuk daftar kami untuk diintervensi," sebut Hazli.

Sementara itu, berdasarkan pemutakhiran data melalui aplikasi Sigizi Kesga per 7 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, jumlah anak yang tercatat sebanyak 515 orang. Perubahan angka tersebut tidak berarti data sebelumnya keliru. Perbedaan terjadi karena proses pendataan stunting dilakukan secara bertahap dan semakin spesifik.

"Jadi tahapannya mulai dari data awal, sweeping oleh kader, validasi oleh tim gizi puskesmas, kemudian penegakan diagnosis oleh dokter spesialis anak. Setelah itu baru dilakukan intervensi," terang Hazli.

Target Pemko Pekanbaru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan rencana strategis bidang kesehatan adalah mencapai kondisi zero stunting. Zero stunting dimaknai sebagai tidak adanya kasus baru stunting.

Kesempatan yang sama, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pekanbaru Inda Wati mengatakan, anak yang telah mendapatkan rekomendasi dokter spesialis anak akan mendapatkan intervensi sesuai kondisi masing-masing. Salah satu upaya intervensi itu berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), yakni pangan khusus yang digunakan dalam penanganan kondisi medis tertentu sesuai rekomendasi dokter dan petunjuk teknis Kementerian Kesehatan.

"Semua intervensi kami berdasarkan rekomendasi dokter spesialis anak. Anak yang sudah mendapatkan intervensi juga kami pantau perkembangan berat badannya," ujarnya.

Pemantauan dilakukan secara berkala di posyandu maupun melalui poli stunting. Frekuensinya disesuaikan dengan kondisi anak dan rekomendasi dokter.

Selain penanganan anak yang telah terdiagnosis stunting, Dinkes juga menjalankan program pencegahan bagi anak yang mengalami berat badan kurang, berat badan tidak naik, maupun yang berisiko mengalami stunting. Intervensi pencegahan antara lain dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal.

Selain itu, terdapat program dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) untuk anak-anak yang masuk kategori berisiko stunting. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi bagian dari dukungan pemenuhan gizi anak. 

Program tersebut diberikan kepada balita di posyandu tanpa membedakan apakah anak tersebut mengalami stunting atau tidak. Dengan demikian, anak yang telah mendapatkan intervensi khusus juga tetap memperoleh dukungan asupan gizi melalui program lainnya.

"Intervensi susu khusus itu diberikan sesuai ketentuan dan rekomendasi dokter. Anak-anak yang sudah diintervensi juga kami pantau secara berkala untuk melihat perkembangan berat badannya," jelas Inda.