Penjual Kukusan di Kantor Wali Kota Pekanbaru Beradaptasi, Gunakan QRIS BRI untuk Transaksi
Zulfah menunjukkan QRIS BRI dan aneka makanan yang dijualnya di Kantin DWP Gedung Utama Kompleks Perkantoran Wali Kota Pekanbaru di Kecamatan Tenayan Raya. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Seorang wanita paruh baya tampak asyik menata dagangannya di area Kantin Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Pekanbaru di lantai dasar Gedung Utama Kompleks Perkantoran Wali Kota, Kecamatan Tenayan Raya. Ia menjual berbagai makanan, seperti siomai, batagor, nugget goreng, sosis ketang (sostang), kentang goreng, mi ayam, dan ketupat gulai pakis.
Beragam foto makanan terpampang pada sebuah spanduk kecil yang menutupi kaca etalase makanan. Bagian tengah spanduk itu tertulis "Jajanan Zulfah".
Kode QRIS BRI tampak terpajang di antara makanan yang dijual. Lapak dagangan beratapkan terpal berwarna merah. Wanita ini bernama Zulfah.
"Nama usaha saya Jajanan Zulfah. Saya berjualan setiap Senin hingga Jumat di Kantin DWP," katanya.
Menu yang dijual antara lain batagor, siomai, serta aneka makanan kukus seperti jagung, pisang, ubi, dan sesekali kacang tanah. Jenis makanan yang dijual menyesuaikan ketersediaan serta harga bahan baku di pasaran.
"Untuk minuman, saya menjual air mineral. Selain itu, saya juga menjual berbagai jajanan lainnya," ucap Zulfah.
Menu lain dijual ketika Kantor Wali Kota Pekanbaru sedang ramai karena adanya sebuah acara. Menu tersebut antara lain, mi goreng, kwetiau goreng, mi sagu, serta aneka camilan.
"Sesekali ada kentang goreng. Tergantung suasana," jelas Zulfah.
Menu andalan yang dijual setiap hari adalah batagor, siomai dan aneka makanan kukus. Zulfah telah berjualan aneka makanan tersebut di lingkungan Kantor Wali Kota Pekanbaru sejak 2019. Selain itu, ia juga rutin mengikuti berbagai bazar berbayar.
"Kalau hari Minggu, saya berjualan di sekitar area Car Free Day, tepatnya di Jalan Cut Nyak Dien," ucap Zulfah.
Kini, sebagian besar transaksi dilakukan menggunakan QRIS BRI. Zulfah memilih layanan tersebut karena ia dan suaminya telah menjadi nasabah BRI sejak 2008.
"Saya yang meminta kepada BRI untuk dibuatkan QRIS. Kemudian, pihak BRI yang mengantarkan QRIS tersebut kepada saya," sebut Zulfah.
Pembayaran melalui QRIS ini cukup tinggi di kantor wali kota yaitu sekitar 85 hingga 90 persen. Penggunaan QRIS BRI ini sudah sejak akhir 2022. Pembayaran melalui QRIS lebih praktis dan mempercepat transaksi.
"Saya tidak repot cari uang kembalian. Pokoknya lebih cepat dan praktis," pungkasnya.
Kesempatan berbeda, Junior Manager Retail Transaction Department Region 2 Pekanbaru Pitra Suci saat dihubungi mengatakan, jumlah QRIS yang tersebar sebanyak 171.926. Jumlah ini berdasarkan data terakhir pada 30 April 2026.
"Untuk penyebaran QRIS yang paling banyak di area Pekanbaru, Batam dan Dumai," ungkapnya.
Berdasarkan data yang dipublikasikan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Provinsi Riau, penggunaan QRIS tumbuh signifikan di Provinsi Riau hingga pertengahan 2024. Volume transaksi tercatat mencapai 18,76 juta transaksi atau meningkat 118 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah merchant QRIS telah mencapai rata-rata 669.368 merchant dengan penambahan 129.686 pengguna baru.
Pelaku UMKM seperti Zulfah ini berupaya memenuhi permintaan pembeli yang ingin membayar menggunakan QRIS. Kehadiran layanan pembayaran digital tersebut memudahkan transaksi, terutama bagi pegawai yang lebih sering menggunakan pembayaran non-tunai.
Karena, mesin Anjung Tunai Mandiri (ATM) hanya satu unit yang tersedia di Kompleks Perkantoran Wali Kota Pekanbaru ini. Penggunaan QRIS dinilai lebih praktis tanpa repot menarik uang tunai di mesin ATM.