Aksi Simbolik BEMKM UMRI: Suara Keadilan dari Pekanbaru untuk Maluku

23 Februari 2026
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (BEM KM UMRI)

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (BEM KM UMRI)

RIAU1.COM - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (BEM KM UMRI), Senin (23/2) menggelar aksi simbolik di beberapa titik di Pekanbaru sebagai bentuk protes dan kekecewaan mendalam terhadap dugaan tindakan kekerasan oleh oknum aparat di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Diketahui, kekerasan polisi kembali memakan korban. Kali ini, seorang remaja berumur 14 tahun bernama Arianto Tawakkal di Tual, Maluku meninggal setelah dihantam helm taktikal oleh anggota Brimob, 19 Februari lalu.

"Aksi simbolik ini dilakukan memantik masyarakat  dari berbagai lapisan, terkhususnya mahasiswa agar tidak tinggal diam terhadap Tindakan represif aparat terhadap rakyat, perilaku ini yang harus dihilangkan dari tubuh polri. Karena hari ini, ada nyawa yg dihilangkan. Kami BEM-KM UMRI menutut keras untuk berlakukan hukum pidana dengan transparansi yang dapat di konsumsi publik agar hal yang sangat mencederai kemanusiaan ini tidak terjadi berulangkali dan polri bisa menjadi perwujudan nyata sebagai pengayom masyarakat," kata Presiden mahasiswa BEM KM UMRI Rayhan Divaio Hutapea dalam rilis yang diterima redaksi.

Peristiwa ini, sambung dia, makin membuktikan pembenahan di tubuh internal kepolisian masih gagal. Akibatnya, watak militeristik di kepolisian disebut tidak pernah hilang.

"Kami mengecam keras dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Brigade Mobil di Maluku terhadap seorang anak berusia 14 tahun hingga meninggal dunia. Peristiwa ini bukan hanya menyayat hati, tetapi juga melukai rasa keadilan publik dan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum, polisi yang hari ini seharusnya menjaga dan mengayomi masyarakat, malah merubah citranya menjadi pembunuh rakyat," tutur dia.

Sebagai mahasiswa, sambung dia, kami berdiri di barisan moral untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dan keadilan. Aksi simbolik ini adalah bentuk solidaritas kami terhadap korban dan keluarga, serta seruan agar proses hukum dilakukan secara transparan, objektif, dan tanpa tebang pilih.

"Kami menegaskan bahwa kritik ini bukanlah bentuk kebencian terhadap institusi, melainkan dorongan agar reformasi internal benar-benar ditegakkan. Institusi sebesar Polri harus mampu membersihkan dirinya dari oknum yang mencoreng nama baik korps dan merusak kepercayaan publik," paparnya.

Negara, sebut dia lagi, tidak boleh kalah oleh kekerasan. Aparat penegak hukum seharusnya menjadi pelindung, bukan ancaman. Ketika seorang anak kehilangan nyawa, maka yang gugur bukan hanya satu kehidupan, tetapi juga rasa aman masyarakat.

BEM KM UMRI kata dia akan terus mengawal isu ini dan mendesak:

1. Pengusutan tuntas dan transparan terhadap kasus ini.

2. Penindakan tegas terhadap pelaku tanpa kompromi.

3. Evaluasi menyeluruh terhadap pola pendekatan keamanan yang represif.

"Kami percaya, suara mahasiswa adalah suara nurani rakyat. Dan hari ini, nurani itu tidak bisa diam," tukasnya.**