Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Menggunakan parfum sebelum beraktivitas menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Umumnya, parfum disemprotkan ke beberapa titik tubuh terutama area leher. Namun ternyata kebiasaan ini berpotensi membahayakan kesehatan tubuh.
Ahli patologi dan peneliti kanker dari University of Cambridge, Ana Canadas, mengatakan menyemprotkan parfum langsung ke area leher bisa meningkatkan paparan bahan kimia yang berisiko memicu masalah pernapasan hingga kanker. Untuk itu, dia menyarankan masyarakat untuk berhenti menyemprotkan parfum di leher.
Menurut Canadas, parfum merupakan campuran bahan kimia yang kompleks dan dapat mengandung puluhan hingga ratusan bahan. Di banyak negara, produsen hanya diwajibkan mencantumkan istilah fragrance atau parfum pada label produk, sehingga bahan-bahan kimia penyusunnya tidak perlu diungkapkan secara rinci kepada konsumen.
"Setop menyemprotkan parfum di leher Anda. Parfum adalah campuran kimia kompleks yang dapat mengandung puluhan hingga ratusan bahan kimia," kata Canadas dilansir Republika dari laman Hindustan Times, Jumat (31/7/2026).
la mengatakan banyak orang telah menyemprotkan parfum ke leher setiap pagi selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa area tersebut bukan tempat yang ideal untuk penggunaan parfum. Canadas mengutip sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Toxicology, yang menganalisis risiko kesehatan terkait dengan parfum dan berbagai produk kosmetik lainnya.
Dalam kajian itu disebutkan bahwa sejumlah bahan yang umum ditemukan dalam parfum, seperti senyawa pelepas formaldehida, ftalat, dan volatile organic compounds (VOC), termasuk kelompok pengganggu sistem endokrin. Menurut Canadas, zat-zat tersebut dapat meniru atau menghambat kerja hormon dalam tubuh.
"Tidak hanya itu, beberapa penelitian mengaitkannya dengan infertilitas, masalah pernapasan, atau bahkan kanker," ujar Canadas.
la juga menyoroti minimnya informasi mengenai kandungan parfum yang dapat diketahui konsumen. Menurutnya, istilah fragrance atau parfum pada label produk secara hukum memungkinkan perusahaan tidak mengungkapkan ribuan bahan kimia yang digunakan dalam formulasi parfum.
"Jadi, kita tidak pernah benar-benar tahu apa saja kandungannya," kata Canadas.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti semua parfum berbahaya atau penggunaan parfum secara langsung menyebabkan penyakit. Namun menurut dia, bukti ilmiah yang ada mendukung upaya mengurangi paparan yang tidak diperlukan apabila hal tersebut mudah dilakukan.
Canadas menjelaskan terdapat dua alasan utama mengapa parfum tidak disarankan disemprotkan langsung ke leher. Pertama, setiap semprotan parfum menghasilkan aerosol yang dapat terhirup ke saluran pernapasan. Dengan demikian, senyawa kimia dalam parfum dapat masuk ke dalam tubuh melalui paru-paru sekaligus melalui kulit.
Kedua, leher merupakan salah satu bagian tubuh dengan aliran darah yang tinggì dan memiliki lapisan kulit yang relatif tipis. Kondisi tersebut memungkinkan bahan kimía dalam parfum diserap lebih dalam dan lebih cepat sehingga lebih mudah memasuki aliran darah.
"Jadi, ada dua masalah utama di sini. Semuanya terkait dengan organ-organ vital manusia, sehingga sebaiknya setop menyemprotkan parfum di area leher," kata Canadas.
Canadas pun menekankan bahwa dirinya bukan ingin menakut-nakuti masyarakat agar berhenti menggunaka parfum. Menurut dua, yang perlu dipahami adalah paparan kecil dari berbagai produk yang digunakan setiap hari dapat terakumulasi selama puluhan tahun.
"Karena itu, mengurangi paparan jika memungkinkan merupakan langkah yang masuk akal dan didukung oleh bukti ilmiah," ujarnya.*