Kebiasaan Main HP Bisa Jadi Dalang Merasa Lelah saat Bangun Tidur

8 September 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Kebiasaan doomscrolling terutama jika dilakukan sebelum tidur, dapat memicu kabut otak atau brain fog. Dokter spesialis neurologi dan epileptolog, dr Sreelaksmi N, menjelaskan doomscrolling dapat membuat otak tetap berada dalam kondisi waspada. Pada saat yang sama, paparan cahaya biru dapat mengganggu produksi melatonin dan memengaruhi kualitas tidur.

Ketika tidur terganggu atau tidak cukup, seseorang dapat bangun dalam kondisi mental yang lelah. Kondisi ini juga dapat memicu gejala brain fog seperti pikiran yang terasa kacau, sulit fokus, dan mengalami penurunan daya ingat.

"Kebiasaan doomscrolling pada larut malam dapat mengganggu kualitas tidur. Tanpa tidur yang cukup, Anda mungkin bangun dengan perasaan lelah secara mental, mudah marah, dan pelupa," kata dia dilansir Republika dari laman Hindustan Times, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Sreelaksmi, kurang tidur juga berkaitan dengan sejumlah gangguan fungsi otak. Mulai dari fungsi memori, kemampuan mengambil keputusan, hingga suasana hati dan fungsi kognitif secara umum.

"Banyak orang menyadari bahwa mereka menjadi lebih mudah lupa dan mudah tersinggung, bahkan setelah menghabiskan berjam-jam mengonsumsi informasi," kata dia.

la mengatakan doomscrolling juga dapat memengaruhi otak, baik dari sisi kimiawi maupun fisiologis. Hal ini bisa mengganggu kemampuan otak untuk memulihkan diri.

"Terlalu banyak doomscrolling juga mengganggu kemampuan otak untuk mengisì ulang energinya," kata Sreelaksmi.

Ia membagikan beberapa langkah untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling. Pertama, jadwalkan waktu untuk membaca berita. Alih-alih terus mengikuti perkembangan informasi sepanjang hari, tentukan waktu tertentu untuk memeriksa berita dan pembaruan.

Kedua, hindari penggunaan ponsel atau gawai sebelum tidur. Perangkat digital sebaiknya dijauhkan setidaknya satu jam sebelum tidur agar pikiran memiliki waktu untuk lebih tenang.

"Cara ketiga, batasi notifikasi. Matikan pemberitahuan yang tidak diperlukan agar tidak terus terdorong membuka aplikasi dan kembali melakukan scrolling," kata dia.

Terakhir, jangan abaikan gejala yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika muncul kecemasan, kesulitan tidur, sakit kepala, atau masalah kognitif yang mengganggu rutinitas, konsultasikan dengan tenaga medis profesional.

Merujuk Kementerian Kesehatan RI, brain fog atau kabut otak adalah kondisi ketika pikiran terasa berkabut yang membuat seseorang sulit berkonsentrasi, fokus, dan mengambil keputusan. Kondisi ini bukan merupakan suatu penyakit, melainkan kumpulan gejala atau tanda ketidaknyamanan pada fungsi kognitif.

Tidur yang cukup dapat membantu membersihkan racun yang dapat berkontribusi pada kabut otak. Pastikan untuk mendapat waktu tidur yang cukup yaitu sekitar 7 hingga 9 jam setiap malam.

Selain tidur cukup, Kemenkes menyarankan melatih kemampuan otak dengan mencoba hal-hal baru, menghindari multitasking, dan melatih daya ingat. Saat kehilangan fokus, seseorang dapat memperlambat aktivitas dan kembali memusatkan perhatian pada satu hal. Adapun untuk melatih memori, seseorang bisa membiasakan diri mengingat kembali informasi sederhana yang baru diterima.

Mengelola stres juga menjadi bagian penting dalam mengatasi brain fog. Kemenkes menyarankan memberikan waktu untuk istirahat mental, melakukan meditasi, tetap aktif secara sosal, berolahraga secara teratur, serta menerapkan pola makan sehat.*