Penanganan karhutla
RIAU1.COM - Pemerintah terus berupaya melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Saat ini, penanganan kebakaran itu diprioritaskan di enam provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, mengatakan pihaknya terus berupaya mengoptimalkan operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas, termasuk melakukan patroli udara, water bombing, dan operasi modifikasi cuaca (OMC). Pasalnya, hingga saat ini total area yang terbakar akibat karhutla di enam provinsi itu diperkirakan telah mencapai 73.425 hektare.
"Fokus kami bukan hanya untuk memadamkan api yang sudah muncul, tetapi mencegah perluasan kebakaran, melindungi masyarakat dari dampak asap, dan memastikan setiap titik yang terdeteksi segera diverifikasi serta ditangani," kata dia saat konferensi pers secara daring, Ahad (23/8/2026) yang dimuat Republika.
Berton menambahkan, Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan agar penanganan karhutla dengan optimal. Bahkan, Prabowo juga telah melakukan pengecekan langsung penanganan karhutla di Kalimantan.
Menurut dia, Prabowo mengarahkan penambahan helikopter water bombing sebanyak 17 unit untuk melengkapi di Kalimantan, termasuk menambah mesin pompa dan pipa di seluruh kabupaten/kota terdampak. Presiden juga telah mengerahkan tiga batalyon atau sekitar 1.500 prajurit TNI beserta alat pemadam perorangan untuk membantu pemadaman api di titik-titik yang tersebar.
Terakhir, Prabowo disebut akan menindakan tegas pelaku pembakaran lahan yang terbukti melanggar hukum. Di sisi lain, pemerintah juga akan melakukan penambahan tenaga kesehatan untuk melakukan penanganan masalah kesehatan dan mengedukasi kepada warga terkait karhutla.
Berton mengatakan, penanganan melalui helikopter water bombing bukan merupakan operasi utama. Menurut dia, upaya itu dilakukan untuk operasi darat yang dilakukan.
Karena itu, BNPB berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan dan mendukung sumber daya personel dan alat-peralatan perangkat untuk penguatan Satgas Darat. "Pemerintah akan mendukung logistik, alat peralatan Satgas Darat seperti selang panjang, flexible flexible tank, pompa jinjing, sumur bor dangkal," ujar dia.
Ia menambahkan, BNPB juga telah menyiagakan armada OMC dan stok bahan semai di setiap wilayah. Namun, OMC disebut hanya dapat dilaksanakan dengan baik ketika terdapat ketersediaan awan hujan.
Karena itu, masyarakat untuk sementara diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diharapkan dapat menggunakan masker.
"Kami juga menghimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah, dan pastikan saat membuang puntung rokok baranya sudah padam," kata Berton.
Kondisi Kalimantan
Berton menyebutkan, berdasarkan pemantauan titik panas atau hotspot selama 24 jam melalui satelit NASA NOAA-20, NASA SNPP, dan Terra/Aqua, terdeteksi 273 hotspot dengan kepercayaan tinggi, 2.420 kepercayaan menengah, dan 81 hotspot kepercayaan rendah di Provinsi Kalimantan Barat. Ia menyebutkan, luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat per 19 Agustus tercatat 38.310 hektare.
Akibatnya, kondisi kualitas udara di wilayah itu dilaporkan tidak sehat. Bahkan, jarak pandang di beberapa wilayah tidak sampai 1 kilometer akibat asap kebakaran.
"Kualitas udara berdasarkan BMKG umumnya berada pada kategori tidak sehat dengan jarak pandang di bawah 1 km di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Ketapang akibat kabut asap," kata dia.
Ia menambahkan, berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas hujan ringan di sebagian Kalimantan Barat berpotensi terjadi pada tanggal 23-29 Agustus 2026. Namun, potensi terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai pada periode 23-29 Agustus 2026.
Menurut Berton, sebanyak 10.010 personel gabungan telah dikerahkan untuk mengatasi karhutla di Kalimantan Barat melalui operasi darat. Sedangkan melalui udara, operasi dilakukan dengan 11 unit unsur udara, meliputi tiga unit untuk patroli, lima unit helikopter water bombing, dan potensi penambahan tiga unit.
"OMC sedang berlangsung pada tanggal 22-23 Agustus karena adanya potensi awan hujan pada periode tersebut," kata dia.
Berdasarkan hasil citra satelit, kenaikan jumlah hotspot dengan kepercayaan tingkat tinggi masih terus terjadi. Namun, data hotspot itu masih perlu dikonfirmasi dari hasil peninjauan lapangan dan pemantauan patroli udara.
Di sisi lain, pihaknya juga telah melakukan langkah penegakan hukum melalui Dinas Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Langkah itu mencakup pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan lokasi lahan terbakar, penerapan sanksi administratif, hingga evaluasi dan ancaman pencabutan izin usaha bagi pelaku pembakaran.
"Izin usaha PBPH yang sudah dilakukan pengawasan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau," kata Berton.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, masih terdapat 2.479 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan medium hingga tinggi pada Ahad hingga pukul 16.00 WIB. Berdasarkan data sementara, kuas lahan terbakar sebesar 7.634 hektare dengan jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut di atas 9 km.
Menurut Berton, operasi darat telah dilakukak di Kalimantan Tengah dengan menerjunkan 10.700 personel. BNPB juga telah memberikan dukungan peralatan berupa 123 unit pompa, lima unit motor trail karhutla, 133 set APD, 29 unit tangki water storage, dan peralatan pendukung lainnya.
Sementara untuk operasi udara, terdapat 10 pesawat yang terdiri dari untuk patroli udara tiga unit, satu heli Bell, satu caravan berfungsi untuk patroli dan OMC, dan penambahan satu patroli, serta water bombing ada tujuh unit, dengan satu unit eksisting dan penambahan satu unit lagi.
"OMC dilakukan pada tanggal 16-30 Juni 2026 yang lalu, kemudian dilakukan juga 30 Juli sampai 4 Agustus 2026 yang lalu, dan 11 Agustus sampai 15 Agustus 2026, dan semuanya itu telah dioperasikan," kata dia.
Berton mengungkapkan, beberapa titik api yang muncul berada jauh dari sumber air membuat pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah sulit dilakukan. Terlebih, sumber air yang digunakan untuk pemadaman mulai mengering.
"Saat ini tim darat membuat sodetan kanal dari Sungai Kahayan sepanjang 1,8 km dengan lebar 4 meter dan dalam 2 meter yang berfungsi untuk mengalirkan sumber air bagi Satgas Darat. Dilakukan juga penyekatan supaya kepala api tidak melebar," kata dia.
Sedangkan di Kalimantan Selatan, luas lahan terbakar tercatat telah mencapai 8.620 hektare. Menurut dia, pihaknya telah melakukan operasi darat dengan mengerahkan 9.800 personel. BNPB juga telah mendukung peralatan berupa delapan unit pompa, enam rol selang, enam unit motor, tiga unit tenda pengungsi, empat unit water tank portable, 20 set APD karhutla, enam unit SCBA, 10 unit hidran, dan 10 unit kartu perdana paket data.
"Untuk operasi udara, terdapat sembilan pesawat yang dioperasikan. Untuk patroli udara tiga unit, satu heli bell, satu caravan yang berfungsi untuk patroli dan OMC, berpotensi penambahan 1 lagi. Untuk heli water bombing ada empat eksisting dan berpotensi menambah dua unit helikopter," kata dia.
Meski begitu, pihaknya masih belum bisa melakukan OMC di Kalimantan Selatan. Pasalnya, hingga saat ini belum nampak pertumbuhan awan hujan di wilayah itu. Meski begitu, situasi di Kalimantan Selatan diklaim masih terkendali.
Ia menambahkan, salah satu kendala di lapangan adalah kondisi angin kencang. Alhasil, kebakaran dapat cepat meluas, sedangkan sumber air terbatas. Di sisi lain, kebakaran kembali terjadi di lahan yang sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Terlebih, lahan yang terbakar sebagian merupakan lahan gambut.
Kondisi di Sumatra
Berton menambahkan, kebakaran juga terjadi di wilayah Sumatra, khususnya Sumatra Selatan. Hingga hari ini, setidaknya terdapat 1.926 hektare lahan yang terbakar di wilayah itu. Sementara itu, BMKG memprediksi dalam tujuh hari ke depan di wilayah Sumatra Selatan masih akan cerah berawan.
"Prediksi curah hujan akan dimulai pada bulan Agustus 2026 dengan kategori rendah. Kualitas udara umumnya kategori sedang hingga tidak sehat dengan jarak pandang di bawah 3 km," kata dia.
Ia menyebutkan, potensi tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah wilayah Provinsi Sumatra Selatan sebagian besar berada pada kategori mudah terbakar. Karena itu, operasi terus dilakukan baik melalui darat dan udara.
Berton mengatakan, saat ini sudah adal 11.567 personel yang dikerahkan untuk melakukan operasi darat. BNPB juga telah mendukung peralatan satgas berupa tujuh unit kendaraan operasional, 17 peralatan pemadaman, 20 flexible tank, APD dan peralatan personel 170 set.
Sementara itu, operasi udara menggunakan sembilan unit, di mana patroli udara dua unit untuk OMC dan tujuh unit water bombing. OMC juga telah dilaksanakan beberapa kali di wilayah itu.
"Adapun kendala dari lapangan untuk operasi darat, tidak ada akses jalan menuju titik api, sehingga medan sulit ditebus, sumber-sumber air mulai surut dan semakin jauh dari titik api," kata dia.
Selain itu, operasi udara juga terkendala sumber untuk pengambilan air dari bucket water bombing mulai surut dan semakin jauh dari firespot. Di sisi lain, angin di sekitar api juga bertiup kencang, sehingga menyulitkan untuk manuver helikopter dan kondisi jarak pandang yang terbatas.
Sementara di Provinsi Riau, terdapat 150 hotspot dengan delapan hotspot kepercayaan tinggi. Adapun luas lahan terbakar Provinsi tersebut seluas 16.277 hektare.
"Tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah provinsi secara umum berada pada kategori mudah, kecuali di Sungai Penuh dengan kategori aman. Kualitas udara di kota di kota berkategori sedang," kata dia.
Berton mengatakan, pihaknya telah mengerahkan 17.764 personel untuk operasi darat. Sementara patroli udara dilakukan menggunakan dua unit dan water bombing dilakukan menggunakan empat unit.
Sedangkan di Provinsi Jambi, luas lahan yang terbakar mencapai 658 hektare. Di wilayah itu, operasi darat dilakukan oleh 5.816 personel dan operasi udara melibatkan 6 unit pesawat udara, yang dua unit antaranya adalah untuk patroli dan empat adalah water bombing.
"Titik api jauh dari sumber air, dan sumber air yang digunakan saat ini sudah mulai mengering," kata dia.*
