Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kenaikan impor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 yang mencapai hampir 20 persen.
Lonjakan tersebut terutama dipicu meningkatnya kebutuhan bahan baku, bahan penolong, serta barang modal untuk mendukung aktivitas ekonomi dan produksi dalam negeri.
Airlangga menyampaikan, nilai impor Indonesia tercatat sebesar 210,63 miliar dolar AS atau tumbuh 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Import juga mengalami kenaikan 19,67 persen, yaitu sebesar 210,63 miliar, terutama kenaikan bahan baku dan penolong, juga kenaikan dari capital goods atau barang-barang modal, dan di bulan Januari-September juga terjadi di banding tahun lalu 176, jadi importnya naik hampir 20 persen," kata Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip Selasa, 3 November 2026.
Sementara itu, impor nonmigas mencapai 178,06 miliar dolar AS, meningkat 16,92 miliar dolar AS. Airlangga menjelaskan, kenaikan impor nonmigas tersebut turut dipengaruhi oleh pergerakan harga.
Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia juga mengalami pertumbuhan sebesar 5,58 persen secara tahunan, dengan total mencapai 221,23 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026. Adapun ekspor nonmigas tercatat sebesar 212,27 miliar dolar AS.
Airlangga juga memaparkan perkembangan inflasi Oktober 2026 yang mencapai 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date) berada di level 2,4 persen atau masih dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Menurutnya, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok harga bergejolak (volatile food) sebesar 5,81 persen dan harga yang diatur pemerintah (administered prices) sebesar 3,24 persen. Sedangkan inflasi inti (core inflation) relatif terkendali di angka 2,56 persen.
Pemerintah juga menyiapkan program diskon transportasi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) untuk mengantisipasi kenaikan biaya perjalanan, khususnya angkutan udara.
"Jadi dari segi inflasi sendiri, core inflation-nya hanya 2,56, administer price yang memang tinggi 3,24, dan volatile food 5,81. Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," pungkasnya.*