Beberapa Kali Pinjam KUR BRI, Pemilik Jajanan Kak Is Mampu Berusaha Mandiri

27 Juni 2026
Karyawan Jajanan Kak Is sedang membuat menu siomai untuk pembeli di Gelanggang Remaja Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

Karyawan Jajanan Kak Is sedang membuat menu siomai untuk pembeli di Gelanggang Remaja Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Warga Pekanbaru mulai berdatangan ke kawasan Stadion Gelanggang Remaja di Jalan Jenderal Sudirman sejak sore hari. Suasana masih terang dan sinar matahari masih terasa menyengat. Mereka datang untuk menyaksikan penampilan grup musik Letto.

Grup musik ini didatangkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) Regional Office 2 Pekanbaru. Antrean di gerbang masuk tidak terlalu panjang, meskipun pemeriksaan berlangsung cukup ketat. Terdapat dua gerbang yang dijaga petugas keamanan. 

Gerbang pertama dijaga sekitar sepuluh petugas keamanan. Gerbang ini menjadi akses menuju kawasan stan bazar kuliner.

Gerbang kedua menjadi akses menuju area dalam Stadion Gelanggang Remaja. Gerbang ini dijaga oleh personel kepolisian. Sementara, di kawasan stan bazar kuliner, seluruh transaksi pembayaran diwajibkan menggunakan QRIS BRI.

Salah seorang pelaku usaha kuliner di stan bazar itu mula-mula hanya berbagi mengenai pengalamannya menggunakan QRIS. Kemudian, percakapan mengalir lebih jauh ketika ia mengisahkan pengalamannya memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pedagang kuliner itu adalah Rismi Febrianti, pendiri usaha kuliner Jajanan Kak Is.

"Saya pernah meminjam KUR sekitar tahun 2007. Waktu itu, agunannya masih bisa menggunakan BPKB sepeda motor," kata Rismi.

Dengan agunan BPKB sepeda motor, ia memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp5 juta. Jangka waktu pelunasan sekitar dua tahun. Setelah berhasil melunasi pinjaman tersebut, ia kembali memanfaatkan KUR hingga lima kali.

Pada pinjaman KUR yang kelima, masalah mulai datang. Pinjaman KUR tersebut digunakan oleh seorang kenalannya. 

Namun, sebelum pandemi COVID-19, kenalannya itu tidak sanggup membayar angsuran. Karena, pinjaman tersebut atas nama Rismi, ia akhirnya tidak dapat lagi mengajukan pinjaman KUR.

"Sejak kejadian itu, saya memang tidak pernah meminjam KUR lagi maupun mengajukan pinjaman di bank lain. Saya takut meminjam, tetapi tidak sanggup membayar seperti pengalaman sebelumnya," ucapnya.

Rismi juga sudah nyaman dengan usaha kuliner yang dirintisnya sejak 2012. Baginya, omzet berjualan bakso, siomai, dan aneka makanan kekinian dari bazar satu ke bazar yang lain sudah cukup menopang usahanya.

Apalagi, Rismi punya segudang pengalaman berjualan kuliner. Pengalaman itu membuatnya memahami strategi berjualan serta jenis makanan yang diminati pembeli.

"Saya sempat memiliki karyawan hingga sembilan orang. Beberapa karyawan mengundurkan diri karena sakit, menikah, atau ingin mencari pengalaman baru di perantauan," ujar Rismi.

Dari usaha kuliner ini, ia mampu menyekolah anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Anak sulungnya telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Riau (UNRI) dengan Program Studi Teknik Kimia.

"Dia sudah menikah dan ikut bersama suaminya tinggal di Jakarta. Anak kedua sedang kuliah dengan jurusan Informatika di Universitas Islam Riau (UIR)," ungkap Rismi.

Bagi Rismi, berjualan bakso, siomai, dan aneka makanan kekinian tetap menguntungkan di berbagai kondisi ekonomi. Bahkan, ia pernah meraup omzet hingga Rp28 juta dalam semalam saat mengikuti bazar yang digelar bersamaan dengan konser grup musik Dewa. Dalam kesempatan lain, ia juga pernah membukukan omzet Rp60 juta dalam sepekan.

Untuk meraup omzet hingga puluhan juta rupiah, Rismi harus menyiapkan bahan baku yang cukup banyak. Jika persediaan dagangannya di salah satu bazar hampir habis, ia segera mengambil tambahan stok dari rumah.

"Mesin freezer saya ada empat unit di rumah. Jadi, semua bahan baku telah saya stok terlebih dahulu," jelasnya.

Bayangkan saja, Rismi harus menyiapkan hingga 1.500 butir bakso sebagai stok untuk tiga hari. Ia juga menyiapkan berbagai bahan baku lain, seperti kacang tanah, telur, dan bahan pelengkap lainnya.

"Bahan baku sulit didapat menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Itu pengalaman saya," tuturnya.

Proses pengolahan baku hingga operasional stan di berbagai bazar membutuhkan banyak karyawan. Hingga kini, usaha kuliner Jajanan Kak Is telah memiliki 30 karyawan.

"Saya sudah berpengalaman mengelola banyak karyawan. Soalnya, saya pernah menyuplai sembilan ribu kue untuk Hotel Ibis, yang sekarang berganti nama menjadi Hotel Grand Suka," pungkasnya.

Sementara itu, Team Leader Reputation Management Team Corporate Secretary Group BRI Kantor Pusat Natalia Christanto mengatakan, KUR merupakan fasilitas pembiayaan yang diberikan BRI kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). KUR BRI ini guna mendukung pengembangan usaha para pelaku UMKM. Melalui KUR, pelaku UMKM dapat memberdayakan ekonominya. 

"Sehingga, mereka bisa bermanfaat buat masyarakat dan keluarganya," ujarnya.

Rismi telah memiliki sejuta pengalaman di dunia kuliner. Tak heran, ia telah memahami berbagai strategi berjualan.

Pengalaman memanfaatkan KUR BRI hingga beberapa kali pun telah menjadi bagian dari perjalanan usahanya. Baginya, KUR bukan lagi menjadi kebutuhan utama. Karena, bisnis kulinernya sudah berada di level yang berbeda.