Plt Direktur Perumdam Tirta Siak Suryana Hakim. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Resapan air dinilai semakin memprihatinkan di Pekanbaru. Masifnya penggunaan semen dan paving block di kawasan permukiman maupun pertokoan membuat air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah secara optimal.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Perumdam Tirta Siak Pekanbaru Suryana Hakim, Kamis (14/5/2026), mengatakan, kondisi tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya cadangan air tanah. Hal ini diakibatkan minimnya infiltrasi atau proses peresapan air ke dalam bumi.
“Sekarang coba lihat di sekitar kita. Banyak ruko bagian depannya sudah ditutup semen dan paving block. Air hujan tidak terserap lagi ke tanah, tetapi langsung mengalir ke sungai dan terbuang begitu saja,” ujarnya.
Persoalan tersebut tidak perlu selalu dibuktikan dengan data teknis. Karena, dampaknya sudah dapat dirasakan langsung di lingkungan sekitar masyarakat.
Padahal, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2010 mengatur kewajiban penyediaan ruang resapan air pada bangunan. Dalam aturan itu sudah dihitung bahwa setiap bangunan seluas 36 meter persegi yang tertutup harus menyediakan daya tampung air sekitar satu meter kubik.
"Caranya bisa dengan membuat sumur resapan sebagai ruang penyimpanan air,” ujar Suryana.
Tujuan utama sumur resapan adalah agar air hujan tidak langsung dialirkan ke drainase. Melainkan, air hujan dikembalikan ke dalam tanah untuk menjaga cadangan air tanah tetap stabil.
Namun, penerapan aturan tersebut masih minim ditemukan di lapangan saat ini. Akibatnya, air hujan hanya melimpas ke saluran drainase tanpa sempat terserap ke bumi.
“Kondisi seperti ini yang akhirnya membuat cadangan air tanah kita semakin berkurang. Air hujan tidak disimpan, tetapi langsung terbuang begitu saja,” pungkasnya.