Mi Sagu Selatpanjang Menjelajah Pekanbaru, Kreativitas Muncul Saat Bisnis Roti Hancur

19 Mei 2026
Mi sagu asal Selatpanjang dipromosikan di Mal Living World Pekanbaru dalam sebuah acara. Foto: Surya/Riau1.

Mi sagu asal Selatpanjang dipromosikan di Mal Living World Pekanbaru dalam sebuah acara. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Mal Living World Pekanbaru tengah dimeriahkan dengan stan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) malam itu. Stan-stan UMKM disusun melingkar oleh penyelenggara acara perbankan di lantai satu. 

Berbagai makanan khas Melayu dipajang. Ada sekitar belasan pelaku UMKM yang mengisi stan ini. Salah satunya stan Mi Sagu Boedjang. 

Seorang wanita berjilbab ungu dengan baju kurung hitam menjaga stan UMKM tersebut. Namanya, Bebi Oktaviani. Ia berasal dari Selatpanjang, ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Ia menceritakan awal dimulainya usaha ini oleh ibunya, Praptini. Usaha awal adalah roti. Setelah beberapa tahun, ibunya mulai tertarik mengolah sagu. 

"Meranti itu penghasil sagu. Jadi, ibu saya mencoba mengolah mie sagu saat masa pandemi Covid-19 pada 2020. Karena, tantangan berjualan roti cukup berat saat itu," kata Bebi.

Sejak itu, ibunya fokus dengan usaha pengolahan mi sagu instan. Ibunya juga mengolah sagu menjadi kue bangkit, makanan tradisional Melayu. 

Kue bangkit ini berbahan dasar tepung sagu. Kue ini mengembang atau "bangkit" saat digigit. 

Sejak saat itu, usaha ibunya mulai berkembang pesat. Mi Sagu diberi nama Boedjang. 

Nama Boedjang lebih kepada panggilan anak laki-laki Melayu. Makanya, ada ajang pemilihan pemuda dan pemudi terbaik Melayu yang diberi nama Bujang dan Dara.

"Ibu buka toko oleh-oleh di Jalan Siak, Selatpanjang. Ibu juga merangkul pelaku UMKM di sana," ujar Bebi.

Olahan sagu menjadi mi sudah turun temuran dilakukan orang-orang Melayu di Kepuluan Meranti sejak zaman dulu. Namun, mi sagu ini hanya dikenal di wilayah itu. Kalau ingin dikirim ke luar Kepulauan Meranti, berarti mi sagu ini harus awet dalam jangka waktu tertentu.

"Jadi, ibu punya inisiatif atau ide mengolah mi sagu seperti mi instan. Rupanya, orang banyak juga suka sama mi sagu dan bumbunya," ucap Bebi.

Agar tahan lama, mi sagu dimasukkan ke dalam bungkusan plastik. Kemudian, bungkusan mi sagu divakum dengan mesin vakum khusus makanan. 

Sehingga, mi sagu tetap awet tanpa bahan pengawet. Berbeda jika mi sagu bila dikeringkan. Mi sagu harus dimasak kembali agar kenyal.

"Kami sudah pernah coba membandingkan mi sagu versi vakum dan mi sagu versi dikeringkan," ungkap Bebi.

Bumbu mi sagu juga dibuat seperti mi instan pada umumnya. Namun, bumbu kering yang dibuat lebih bercita rasa Melayu. 

Bumbu kering itu terdiri dari cabai dan beberapa campuran bumbu masakan. Kemudian, ada minyak bawang dan ikan bilis (teri).

"Kami bisa memproduksi dua ribu cup mi sagu setiap bulan. Berat bersihnya 145 gram setiap cup," jelas Bebi.

Mi sagu versi instan ini dititipkan ke rumah oleh-oleh Insyira dan Viera di Pekanbaru. Produk mi sagu dikirim menggunakan jasa pengiriman paket dan barang kargo dari Selatpanjang ke Pekanbaru.

Mi sagu juga dititipkan ke beberapa gerai oleh-oleh yang kecil. Satu cup mi sagu dijual Rp20.000. Mi sagu yang dijual ada versi goreng dan kuah.

"Kami juga ada varian baru mi sagu yaitu mi ayam. Ada ayam dan sayur kering sekalian. Rasanya tetap seperti mi ayam," terang Bebi.

Kesempatan berbeda, Praptini, saat dihubungi mengatakan, ia pernah mendapat pelatihan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) membangun citra produk. Supaya, orang mengenal dan mengingat produk dengan ciri khas tertentu.

"Pelatihan dari BRI itu sudah lama. Kalau tidak salah sekitar empat atau tiga tahun yang lalu, setelah pandemi Covid-19 berakhir," ujarnya.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 2 Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana mengatakan, UMKM yang diberi pelatihan dibagi dalam klaster usaha. Kelompok usaha dibentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan, atau keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. 

Klaster usaha dapat menghubungi mantri BRI di wilayah masing-masing. Agar, klaster usaha mendapat asesmen dan didaftarkan menjadi klaster binaan BRI.

"Manfaatnya, klaster usaha akan mendapat pelatihan, produk dan layanan BRI, serta bantuan sarana dan prasarana," jelas Dian.

Mi sagu merupakan makanan tradisional dari Selatpanjang. Pandemi Covid-19 telah membuat para pelaku usaha berpikir keras membuat inovasi baru. Dengan kreativitas, mi sagu muncul dengan versi cup, seperti mi instan pada umumnya. Kini, mi sagu telah tersebar di beberapa rumah oleh-oleh di Pekanbaru.