SLB Santa Lusia Pekanbaru Tekankan Pelatihan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus

10 Januari 2026
Uskup Keuskupan Padang Mgr Vitus Rubianto Solichin usai peresmian SLB Santa Lusia di Pekanbaru, Sabtu (10/1/2026). Foto: Istimewa.

Uskup Keuskupan Padang Mgr Vitus Rubianto Solichin usai peresmian SLB Santa Lusia di Pekanbaru, Sabtu (10/1/2026). Foto: Istimewa.

RIAU1.COM -Sekolah Luar Biasa (SLB) Santa Lusia Pekanbaru tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik. SLB yang berada di Jalan Umban Sari Atas, Kecamatan Rumbai ini tetapi juga menitikberatkan pada pelatihan keterampilan dan pembentukan kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus.

Uskup Keuskupan Padang Mgr Vitus Rubianto Solichin usai peresmian SLB Santa Lusia, Sabtu (10/1/2026), menjelaskan, salah satu aspek penting yang dikembangkan di SLB Santa Lusia adalah latihan keseimbangan tubuh bagi anak berkebutuhan khusus. Latihan keseimbangan ini dirancang untuk membantu anak-anak, khususnya penyandang autisme dan anak dengan gangguan fokus.

"Supaya, mereka lebih mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari," katanya.

Di kawasan SLB Santa Lusia telah disiapkan berbagai sarana pendukung latihan motorik. Di area sekitar rumah para suster, misalnya, tersedia media latihan berupa ban-ban bekas yang dimanfaatkan untuk melatih keseimbangan anak saat berjalan. Selain itu, desain bangunan sekolah juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

“Bangunan menuju lantai dua tidak seluruhnya menggunakan tangga, melainkan dilengkapi jalur dengan kemiringan tertentu. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat berlatih berjalan dan menjaga keseimbangan dengan lebih aman,” kata Uskup Vitus.

SLB Santa Lusia terbuka untuk umum. SLB ini diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari berbagai latar belakang.

"Tantangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan khusus terletak pada aspek pembiayaan, terutama terkait pengelolaan dan kesejahteraan tenaga pendidik. SLB Santa Lusia merupakan karya Keuskupan Padang yang dikelola langsung oleh para suster," ucap Uskup Vitus.

Dalam mendukung operasional sekolah, Keuskupan Padang masih memberikan uang saku kepada para suster hingga saat ini. Uang saku ini sebagai bentuk dukungan awal dalam menjalankan pelayanan pendidikan.

“Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya aktivitas sekolah, para suster diharapkan mampu mengelola kebutuhan operasional secara mandiri,” harap Uskup Vitus.