Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Harga emas atau logam mulia terus mengalami fluktuasi dan cenderung melemah di tengah berbagai dinamika pasar keuangan global. Diprediksi, pada pekan depan harga emas tidak akan menembus level Rp 2,8 juta per gram.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menganalisis, secara teknikal, harga emas dunia pada pekan depan kemungkinan besar akan diperdagangkan pada level 3.836 dolar AS per troy ounce sebagai level support hingga 4.290 dolar AS per troy ounce sebagai level resistance. Adapun dalam jangka pendek, ia memprediksi level support harga emas dunia berada di 3.990 dolar AS per troy ounce, sedangkan level resistance-nya di posisi 4.132 dolar AS per troy ounce.
"Untuk logam mulia sendiri, kemungkinan besar dalam minggu depan akan ditransaksikan di level support Rp 2,41 juta per gram, kemudian resistance-nya di Rp 2,72 juta per gram. Dalam jangka pendek, kemungkinan support-nya di Rp 2,58 juta per gram dan resistance-nya di Rp 2,623 juta per gram," kata Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Ahad (2/8/2026) yang dimuat Republika.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, harga minyak mentah WTI diperkirakan berada di kisaran 80,50–96 dolar AS per barel, sedangkan Brent Crude Oil diproyeksikan bergerak di kisaran 95–105 dolar AS per barel. Adapun perkiraan indeks dolar AS berada di sekitar 99,20–102,20.
"Ada beberapa faktor yang memengaruhi indeks dolar, harga minyak mentah, serta emas dan logam mulia yang berfluktuasi, yakni masalah geopolitik, perpolitikan di AS, kebijakan Bank Sentral AS, kemudian yang terakhir adalah supply dan demand," ungkapnya.
Mengenai masalah geopolitik, Ibrahim menuturkan konflik di Timur Tengah masih terus dijadikan acuan terhadap terkereknya harga minyak dunia. Beberapa media AS melaporkan, AS dan Israel sedang mempersiapkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran pada pekan depan.
"Artinya apa? Bahwa AS dan Israel serius untuk melakukan penyerangan besar-besaran guna menghentikan Iran yang sedang memperkaya uranium. Iran pun sudah memperingatkan AS dan Israel bahwa apabila melakukan penyerangan, mereka tidak akan tinggal diam. Iran akan melakukan serangan balik," ujarnya.
Di sisi lain, Arab Saudi menggelar pertemuan untuk pembentukan koalisi pertahanan maritim internasional atau persatuan negara Arab guna mengamankan Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah dari ancaman blokade maritim yang diberlakukan kelompok Houthi Yaman dan Iran.
"Kita tahu bahwa sampai saat ini Laut Merah diblokade oleh Houthi Yaman. Yang kita lihat, Laut Merah ini merupakan salah satu jalur transportasi minyak mentah, terutama bagi Arab Saudi. Kemudian yang kedua adalah blokade Selat Hormuz. Ini pun yang kita lihat sampai saat ini transportasi di Selat Hormuz masih terbatas. Artinya apa? Ini juga akan membuat ketegangan tersendiri terhadap kondisi di Timur Tengah apabila AS dan Israel melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Iran," jelasnya.
Selain di Timur Tengah, masalah geopolitik di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia juga masih bergulir setelah kapal yang mengangkut persenjataan dari Rusia ke Iran dibombardir oleh Ukraina. Ibu Kota Kiev hingga saat ini masih diserang secara besar-besaran. Kondisi tersebut membuat ketegangan di Eropa Timur semakin meningkat.
"Kemudian dari segi perpolitikan di AS, Senat AS kemarin menerima proposal anggaran perang sebesar 95 miliar dolar AS. Setelah DPR menyetujui anggaran tersebut, pembahasannya akan dilanjutkan pada minggu depan di Kongres. Apakah Kongres akan menyetujui rancangan anggaran tersebut? Kita lihat bahwa AS dan Israel akan siap melakukan penyerangan besar-besaran yang berarti membutuhkan dana cukup besar. Nah, ini yang kemungkinan besar akan membuat ketegangan di AS meningkat antara Partai Republik dan Partai Demokrat," ujarnya.
Sentimen berikutnya adalah kebijakan Bank Sentral AS. Ibrahim menuturkan, data rilis inflasi pada Juni lalu tercatat sedikit melandai karena kondisi harga minyak pada Juli 2026 mengalami penurunan akibat pembukaan Selat Hormuz. Namun, pada Juli, pergerakan harga minyak kembali naik dan diperkirakan akan menyebabkan inflasi lebih tinggi.
"Jadi memang kemarin inflasi melandai. Ini menjadi indikasi bahwa Bank Sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga. Namun, beberapa Presiden Bank Sentral, terutama Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan, justru memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) karena melihat kondisi pasar yang kemungkinan besar akan terus berfluktuasi akibat naiknya harga minyak mentah dunia," kata dia.
Hal itu, kata Ibrahim, akan sedikit melemahkan indeks dolar, namun pelemahannya bersifat sementara. Dalam pertemuan pada Agustus, kemungkinan inflasi akan tinggi dan Bank Sentral AS bakal mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunganya.
Selanjutnya, faktor supply dan demand. WGC (World Gold Council) mencatat bahwa permintaan emas secara global pada semester I meningkat sekitar 2 persen (yoy) menjadi 2.522 ton dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Nilai transaksinya mencapai 380 miliar dolar AS.
"Artinya, dalam kondisi harga minyak mentah naik, kemudian harga emas dunia mengalami penurunan, kondisi ini dimanfaatkan Bank Sentral Global untuk melakukan diversifikasi investasi dari dolar ke logam mulia. Pada semester II kemungkinan besar tensi geopolitik semakin tinggi sehingga Bank Sentral Global akan kembali melakukan pembelian logam mulia," katanya.*