Anak Muda Diimbau Jangan Mudah Percaya Konten Kesehatan dari Medsos

26 Juni 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, meminta masyarakat untuk tidak sepenuhnya mempercayai konten-konten kesehatan di media sosial. Terutama jika informasi tersebut datang dari kreator yang bukan berasal dari kalangan tenaga kesehatan.

Menurut dr Ray, saat ini banyak influencer yang menyampaikan pesan kesehatan dengan tujuan utama memasarkan produk. Akibatnya, sering kali informasi yang disampaikan tidak komprehensif karena digunakan sebagai sarana endorsement.

"Influencer itu banyak yang nge-drive pesan kesehatan hanya untuk kedok marketing. Banyak yang ternyata konten itu ternyata endorsement obat, produk kesehatan. Nah ini yang bahaya," kata dr Ray saat diwawancara Republika di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Karena itu, dr Ray mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan konten di media sosial sebagai dasar diagnosis atau pengobatan pribadi. Masyarakat harus mampu membedakan informasi yang akurat dan bisa dipercaya, serta informasi yang cenderung menyesatkan.

"Itu sebabnya masyarakat, khususnya anak muda, harus diberikan semacam modal untuk melakukan validasi. Informasi mana yang benar, informasi yang mana yang bisa dipercaya, informasi mana yang sekadar nice to know untuk memperkaya literasi kesehatan kita," kata dia.

Dokter Ray tak memungkiri, media sosial (medsos) kini merupakan salah satu medium efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Apalagi platform seperti Instagram, Facebook, hingga pesan berantai di WhatsApp mudah diakses dan dibagikan kepada orang terdekat. Namun sayangnya, kemudahan ini tidak selalu diikuti dengan akurasi informasi.

Berdasarkan penelitian dari Pew Research Center, sekitar 47 persen pengguna menyatakan informasi kesehatan yang mereka temukan di media sosial kurang akurat atau bahkan tidak akurat sama sekali. Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak orang, terutama mereka yang berusia di bawah 50 tahun, memperoleh informasi kesehatan dari influencer kesehatan dan kebugaran. Padahal, sebagian besar influencer tersebut bukan tenaga medis profesional.

Untuk itu, dr Ray mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa sumber informasi kesehatan yang ada di internet maupun media sosial. "Pesan saya, untuk mencari informasi kesehatan di internet atau di sosial media, nomor satu adalah lihat sumbernya dulu. Sumber harus sumber terpercaya," kata dia.

Ia pun memberikan tips sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memverifikasi informasi kesehatan dari media sosial. Pertama, cek terlebih dahulu siapa yang menyampaikan informasi tersebut. Pastikan informasi tersebut disampaikan oleh dokter, berbasis penelitian, ataupun tenaga kesehatan lainnya.

Lalu tips kedua, pastikan informasi berasal dari website atau portal yang kredibel dan tepercaya. la menyarankan masyarakat mengacu pada sumber resmi seperti portal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk informasi kesehatan anak, Perhimpunan pakar gizi dan pangan Indonesia (Pergizi Pangan) untuk informasi gizi, serta sumber resmi dari Kementerian Kesehatan.

"Ini sudah merupakan langkah awal untuk memastikan informasi yang masuk ke kita itu adalah informasi yang valid dan terverifikasi. Selebihnya, sebaiknya jangan dipercaya dan hanya menjadi referensi untuk mengecek pengetahuan kita saja," kata dr Ray.

Sebelumnya, HCC juga merilis studi yang mengungkap bahwa hampir 60 persen anak muda melakukan swadiagnostik telebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Menurut studi tersebut, Google dan mesin pencari berbasis kecerdasan buatan menjadi sumber utama swadiagnosis. Sumber lainnya berasal dari situs kesehatan dan berbagai konten digital.

Tidak hanya itu, 36 persen responden anak muda mengaku langsung mengonsumsi obat secara mandiri setelah mencari informasi kesehatan sendiri. Lalu 27 persen lainnya bahkan mengabaikan resep dokter karena merasa informasi yang diperoleh dari internet atau chatbot Al sudah cukup valid.

Penelitian ini dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 dengan metode mixed-method terhadap 448 responden urban di sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Dokter Ray yang juga ketua peneliti dari riset tersebut mengimbau agar masyarakat khususnya anak muda lebih bijaksana dalam mengonsumsi konten kesehatan di media sosial. la pun mengimbau anak muda untuk tidak melakukan swadiagnostik karena berisiko memperparah penyakit.

"Diagnosis itu tanggung jawab dokter, hanya dokter yang bisa mendiagnosis dengan akurat. Jadi jangan coba-coba self-diagnose, berbasis konten atau Al, karena itu dipastikan salah dan bisa membuat pengobatan tertunda. Kalau itu penyakit ronis kan berbahaya," ujar dr Ray.*