Hasil Studi: ChatGPT Sering Keliru Memberikan Saran Medis

24 Maret 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), seperti ChatGPT, mengambil peran besar dalam keputusan medis penggunanya. Lebih dari 40 juta orang setiap hari menggunakan platform seperti ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko kesalahan di dalamnya. Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine mengungkap, pengguna hanya mampu mengidentifikasi kondisi medis dengan benar sekitar sepertiga dari waktu setelah berkonsultasi dengan chatbot AI. Tercatat hanya 43% yang mengambil keputusan tepat terkait langkah lanjutan, seperti perlu atau tidaknya ke unit gawat darurat.

Peneliti dari Universitas Oxford, Andrew Bean, menilai masalah utama terletak pada cara pengguna berinteraksi dengan AI.

"Orang-orang tidak tahu informasi apa yang seharusnya mereka sampaikan kepada model," ujarnya, dikutip CNBC Indonesia dari NPR, Selasa (24/3/2026).

Dalam praktiknya, perbedaan kecil dalam deskripsi gejala bisa berujung pada rekomendasi yang berbeda. Pada satu kasus, pengguna yang menyebut "sakit kepala terparah" langsung diarahkan ke IGD. Sementara pengguna lain dengan kondisi sama, namun tanpa deskripsi tersebut, hanya disarankan minum obat dan beristirahat, padahal kondisinya mengancam jiwa.

Masalah tidak berhenti di diagnosis. Studi lain menunjukkan, dalam 52% kasus darurat, AI justru meremehkan tingkat keparahan kondisi pasien.

"Ketika kasusnya jelas merupakan keadaan darurat medis, ChatGPT bisa menjawab dengan benar," kata peneliti Mount Sinai, Girish Nadkarni.

Tapi, lebih lanjut ia mengatakan, dalam situasi yang lebih kompleks dan melibatkan faktor waktu, AI sering keliru memperkirakan seberapa lama pasien bisa menunda penanganan.

Juru bicara OpenAI menyatakan studi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan cara orang menggunakan ChatGPT di dunia nyata. OpenAI menambahkan bahwa penelitian sebelumnya menggunakan versi lama yang kini telah diperbarui untuk mengatasi sejumlah kekhawatiran.

Peneliti Harvard Medical School, Adam Rodman, menyebut AI sebaiknya digunakan sebelum atau setelah konsultasi medis, bukan untuk menangani kondisi darurat. Menurutnya, teknologi ini membantu pasien memahami kondisi lebih baik sehingga interaksi dengan dokter menjadi lebih efektif.

"Waktu terbaik menggunakan model bahasa besar adalah sebelum atau setelah bertemu dokter," kata Rodman.

Para dokter sepakat bahwa AI dan dunia medis kini sudah tidak terpisahkan, dan ke depan manusia serta AI akan semakin terampil berinteraksi.

"Saya berharap AI bisa menjadi perpanjangan dari hubungan manusia," kata Rodman.

Ia membayangkan masa depan di mana dokter dan pasien bekerja sama dengan AI untuk memperlancar komunikasi dan mengatasi birokrasi medis. Namun, Rodman juga mengingatkan adanya risiko, seperti kemungkinan pasien menerima diagnosis serius, misalnya kanker, langsung dari chatbot, bukan dari dokter.

"Harapan saya, teknologi ini digunakan untuk memperkuat sisi kemanusiaan dalam dunia medis. Bukan untuk menghilangkan hubungan antara dokter dan pasien," tegasnya.*