Kapan Sikat Gigi Sebaiknya Diganti?

8 Juni 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Sikat gigi menjadi benda yang digunakan setiap hari untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Namun, masih banyak orang yang lupa mengganti sikat gigi secara rutin.

Padahal, sikat gigi yang terlalu lama digunakan bukan hanya membuat proses membersihkan gigi menjadi kurang efektif, tetapi juga berpotensi menjadi tempat menumpuknya kuman dan bakteri.

CNNIndonesia melansir Cleveland Clinic, dokter gigi Sonoko Nakasato menjelaskan bahwa sikat gigi idealnya diganti setiap tiga hingga empat bulan sekali. Sikat gigi yang digunakan terlalu lama akan mengalami kerusakan pada bulu sikat sehingga tidak lagi mampu membersihkan plak secara optimal.

Bulu sikat yang mulai melebar, melengkung, atau terasa terlalu lembut menjadi tanda paling umum bahwa sikat gigi sudah waktunya diganti.

Tak sedikit orang menunggu hingga warna bulu sikat memudar sebelum menggantinya. Padahal, kondisi fisik bulu sikat dinilai jauh lebih penting dibanding warna atau usia sikat gigi itu sendiri.

The American Dental Association juga merekomendasikan penggantian sikat gigi minimal setiap tiga hingga empat bulan sekali.

Namun, dalam beberapa kondisi, sikat gigi sebaiknya diganti lebih cepat tanpa perlu menunggu hingga berbulan-bulan, antara lain:

• Bulu sikat terlihat rusak

• Sedang sakit

• Sikat gigi jatuh ke toilet

• Digigit hewan peliharaan

• Terlalu lama disimpan di dalam koper

Mengutip Verywell Health, kualitas sikat gigi lebih dipengaruhi oleh cara seseorang menyikat gigi dibanding sekadar lamanya penggunaan.

Orang yang menyikat gigi terlalu keras biasanya membuat bulu sikat lebih cepat rusak dan melebar. Akibatnya, sikat gigi perlu diganti lebih cepat dibanding orang yang menyikat gigi secara perlahan.

Sikat gigi yang dipakai setiap hari juga rentan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Mulut manusia secara alami dipenuhi berbagai jenis bakteri, baik bakteri baik maupun bakteri jahat. Sebagian bakteri tersebut dapat menempel pada bulu sikat dan bertahan meski sudah dibilas setelah digunakan.

Karena itu, membilas sikat gigi dengan air saja dinilai belum cukup untuk menghilangkan seluruh kuman yang menempel.

Risiko penumpukan bakteri juga meningkat jika sikat gigi disimpan dalam kondisi lembap atau tertutup rapat sehingga sulit mengering.

Selain itu, sikat gigi yang sudah lama digunakan berpotensi menyimpan sisa pasta gigi, air liur, hingga kotoran mikroskopis yang tidak terlihat.

Bulu sikat yang rusak membuat proses membersihkan plak dan sisa makanan menjadi kurang maksimal. Jika plak terus menumpuk, risiko gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut dapat meningkat.

Tak hanya itu, sikat gigi yang terlalu aus juga bisa melukai gusi dan mengikis enamel atau lapisan pelindung gigi jika tetap digunakan dalam jangka panjang.

Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi gigi dari kerusakan. Jika enamel terkikis, gigi menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami masalah kesehatan mulut.

Pada beberapa kasus, penggunaan sikat gigi yang sudah rusak juga dapat memicu gusi turun atau gum recession, yakni kondisi ketika jaringan gusi perlahan menjauh dari permukaan gigi.

Agar sikat gigi tetap bersih dan lebih awet, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

• Simpan sikat gigi dalam posisi tegak agar mudah kering setelah digunakan.

• Hindari menyimpan sikat gigi di wadah tertutup saat masih basah karena dapat memicu pertumbuhan bakteri.

• Jangan menggunakan sikat gigi secara bergantian dengan orang lain dan selalu bilas hingga bersih setelah dipakai.

• Hindari menyikat gigi terlalu keras karena dapat merusak bulu sikat dan melukai gusi.

Selain rutin mengganti sikat gigi, kesehatan mulut juga perlu dijaga dengan menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit, menggunakan benang gigi, membatasi makanan manis, serta rutin memeriksakan gigi ke dokter.*