Ilustrasi/Pexels
RIAU1.COM - Bayi yang kisahnya viral di media sosial setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya meninggal dunia Ahad (11/10). bayi tersebut mengembuskan napas terakhir pada usia 28 hari setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken, membenarkan kabar meninggalnya bayi tersebut. Ia mengatakan, tim medis telah berupaya memberikan penanganan sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien.
"Betul, pasien bayi tersebut meninggal hari ini pukul 07.10 WIB. 28 hari usia adeknya saat meninggal," kata Niken, CNNIndonesia mengutip detikJatim, Senin (12/10).
Bayi tersebut mulai dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Selama menjalani perawatan, bayi tersebut sempat membutuhkan penanganan intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, bayi tersebut mengalami demam sebelum diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya. Telur mentah itu disebut diberikan dengan alasan untuk menurunkan demam.
Namun, kondisinya kemudian dilaporkan memburuk hingga harus mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Niken tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kondisi Alena selama menjalani perawatan ataupun kaitannya dengan dugaan pemberian telur mentah tersebut. Menurutnya, informasi mengenai kondisi pasien merupakan bagian dari privasi yang harus dijaga.
Kasus ini turut mendapat perhatian sejumlah tenaga medis di media sosial. Salah satunya dokter pemilik akun Threads @dr.ferrykslg yang menyampaikan belasungkawa sekaligus mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya memberikan asupan yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
Ia menjelaskan, bayi berusia 24 hari termasuk dalam kategori neonatus, yakni bayi pada periode awal kehidupan yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam hal pemenuhan nutrisi. Menurutnya, kebutuhan nutrisi bayi pada usia tersebut dipenuhi melalui air susu ibu (ASI) atau susu formula yang sesuai, bukan makanan atau minuman lain tanpa indikasi medis.
Secara umum, bayi dianjurkan mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) saat berusia sekitar enam bulan. Pemberian asupan sebelum usia tersebut perlu mempertimbangkan kondisi bayi dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam menerapkan informasi atau kebiasaan turun-temurun terkait perawatan bayi, terutama jika menyangkut pemberian makanan dan minuman untuk mengatasi keluhan kesehatan.
Demam pada bayi baru lahir juga tidak boleh dianggap sepele. Kondisi tersebut perlu segera diperiksakan ke tenaga medis agar bayi mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat, bukan ditangani sendiri menggunakan bahan makanan, minuman, atau ramuan tertentu.*