Usaha kuliner Jajanan Kak Is menggunakan kode QRIS untuk transaksi pembayaran. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Senja telah berakhir. Kegelapan malam mulai menyelimuti Kota Pekanbaru.
Lampu-lampu di stan bazar mulai memancarkan cahaya yang semakin terang, seolah melawan pekatnya malam. Bazar tersebut digelar di area Stadion Gelanggang Remaja.
Barisan stan membentuk huruf U, menyesuaikan kondisi lokasi. Ada beberapa pelaku usaha kuliner di stan tersebut menjajakan menu bakso dan siomai.
Bakso tampaknya menjadi salah satu yang paling laris dan digemari pembeli. Salah satu pelaku usaha kuliner yang menjual menu bakso adalah Jajanan Kak Is.
Makanan yang dijual susun rapi di stan Jajanan Kak Is. Berbagai bahan siomai diletakkan di atas kukusan berukuran besar agar tetap hangat.
Di samping siomai, tampak pula deretan takoyaki dengan cita rasa khas Indonesia. Di sebelahnya, sate sosis tersusun rapi di atas panggangan.
Penjual juga menyiapkan dua jenis minuman dengan cita rasa berbeda di dalam wadah kaca berukuran besar. Usaha Jajanan Kak Is ini telah dirintis oleh Rismi Febrianti sejak 2012.
Sejak awal, usaha kuliner ini memang berawal dari penjualan bakso. Banyaknya pelanggan yang menilai bakso buatannya enak, Rismi semakin percaya diri untuk berjualan di berbagai bazar. Seiring berjalannya waktu, ia pun menambahkan menu sosis bakar.
"Kalau sosis ini termasuk makanan kekinian yang sifatnya musiman. Sempat tak ada peminatnya, tetapi kemudian laku lagi," kata Rismi.
Tak cukup dengan dua menu, ia juga menambahkan siomai sebagai pilihan bagi pelanggan. Sebagai pelengkap, ia menyiapkan dua jenis minuman yang disajikan dalam wadah kaca berukuran besar.
Rismi tidak selalu menjual minuman. Ia terlebih dahulu melihat kondisi bazar. Meski demikian, penjualan minuman menambah dapat keuntungan bagi usahanya.
"Minuman sekadar penambah-penambah saja. Kadang-kadang sewa stan mahal. Kalau saya hanya menjual makanan, tidak dapat untung," ujar Rismi.
Para awal merintis usaha kuliner, perempuan paruh baya ini masih melayani transaksi secara tunai. Sebelum pandemi COVID-19, ia sempat menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Mesin EDC tersebut diperoleh dari Rismi petugas BRI saat berjualan di sebuah bazar di kawasan Purna MTQ Pekanbaru. Bazar itu digelar untuk memeriahkan penampilan vokalis grup musik Lyla, Indra Perdana Sinaga, yang dikenal dengan nama panggung Naga Lyla.
Naga merupakan putra daerah asal Pekanbaru. Setelah pandemi COVID-19, Rismi beralih menggunakan kode QRIS BRI sebagai sarana pembayaran.
"Saya sudah menjadi nasabah BRI sejak 2005," ucapnya.
Rismi memang aktif mengikuti berbagai yang digelar dalam beragam kegiatan. Bahkan, ia dapt menyewa stan di empat lokasi berbeda sekaligus. Melihat potensi transaksi dari usaha kuliner Rismi, kemudian petugas BRI mencetak empat kode QRIS yang terhubung ke satu rekening.
Namun, masalah mulai muncul. Sejumlah transaksi penjualan terkadang tidak masuk ke rekening. Bahkan, Rismi sempat mendatangi Kantor BRI Unit Juanda, Jalan Juanda, Kecamatan Senapelan, untuk meminta penjelasan.
"Transaksi melalui QRIS berhasil, tetapi uangnya tidak masuk ke rekening. Ada uang yang hilang Rp60 ribu, bahkan lebih. Saat saya urus, pihak BRI juga tidak tahu uang itu dimana," sebut Rismi.
Tak hanya QRIS BRI, layanan QRIS bank lain juga sempat mengalami kendala. Dana hasil transaksi pun ada yang tidak masuk ke rekening.
Kesempatan berbeda, Junior Manager Retail Transaction Department Region 2 Pekanbaru Pitra Suci saat dihubungi mengatakan, jumlah QRIS yang tersebar sebanyak 171.926. Jumlah ini berdasarkan data terakhir pada 30 April 2026.
Disadur dari situs Pekanbaru.go.id, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Riau meresmikan penggunaan aplikasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi para pedagang di Pasar Limapuluh pada 15 September 2021. Melalui sistem pembayaran ini, pedagang dan pembeli dapat bertransaksi secara nontunai dengan lebih aman serta mengurangi risiko peredaran uang palsu.
QRIS menjadi salah satu wujud perubahan budaya transaksi. Di Pasar Limapuluh, pembeli dan pedagang didorong beralih ke sistem pembayaran digital.
Saat itu, Deputi Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Internal BI Perwakilan Provinsi Riau, Asral Mashuri, menjelaskan, setiap teknologi memiliki risiko. Dalam penerapan QRIS, BI telah menerapkan beberapa langkah pengamanan.
Setiap pedagang memperoleh One Time Password (OTP). Ketika mengaktifkan QRIS untuk menerima pembayaran, pedagang harus memasukkan OTP yang hanya berlaku selama lima menit.
Setelah diaktifkan, QRIS menjadi lebih aman karena akses ke server sudah dikunci. Selain itu, pedagang juga diberikan PIN untuk menerima pembayaran.
"Hingga saat ini, kami pastikan belum ada kasus pembayaran digital menggunakan QRIS yang fraud (pembobolan). Kecuali jika PIN diberikan kepada orang lain. Peredaran QRIS juga terhindar dari risiko peredaran uang palsu," jelas Asral.
Penggunaan QRIS memang mempermudah transaksi bagi pelaku usaha kuliner. Namun, sistem pembayaran ini masih memiliki sejumlah kelemahan.
Salah satunya, sebagaimana disampaikan Rismi, dana hasil transaksi terkadang tidak masuk ke rekening. Permasalahan muncul jika kode QRIS dicetak empat sekaligus tapi tertuju pada satu rekening.
Meskipun, notifikasi menunjukkan pembayaran pelanggan telah berhasil. Permasalahan itu muncul ketika empat kode QRIS dicetak dengan tujuan ke satu rekening.