Dari Dapur Sederhana di Pekanbaru, Yuli Mampu Ekspor Sambal 'Empat Sungai' ke Luar Negeri

10 Mei 2026
Yuli Meliani, produsen sambal Empat Sungai sekaligus pemilik rumah makan Sangsa di Jalan Datu Setia Maharaja, Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

Yuli Meliani, produsen sambal Empat Sungai sekaligus pemilik rumah makan Sangsa di Jalan Datu Setia Maharaja, Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Di sebuah sudut bangunan rumah toko di Jalan Datuk Setia Maharaja, Kota Pekanbaru, aroma rempah dan sambal perlahan menyeruak dari balik dapur produksi. Rak-rak kayu berwarna cokelat tersusun rapi, dipenuhi kotak kemasan makanan, botol sambal, hingga aneka produk olahan khas rumahan. 

Di tempat itulah seorang perempuan berhijab berdiri sambil tersenyum, memperlihatkan hasil usaha yang ia bangun dengan penuh ketekunan. Tangannya menggenggam sebotol sambal berlabel “Empat Sungai”. Sementara di tangan lainnya, terdapat kemasan ayam ungkep siap saji. 

Sorot matanya tampak yakin ketika menceritakan perjalanan usaha yang tidak dibangun dalam semalam. Dari usaha rumahan berskala kecil pada 2018, kini produk-produk itu mulai menembus pasar yang lebih luas.

Di balik etalase sederhana itu, tersimpan kisah tentang kerja keras, konsistensi, dan keberanian bertahan di tengah ketatnya persaingan industri kuliner. Setiap sudut ruangan menggambarkan denyut aktivitas usaha kecil yang terus tumbuh. 

Tumpukan sambal dalam kemasan plastik berjajar di atas meja produksi. Botol-botol sambal tersusun rapi menunggu dibeli oleh pelanggan. Sementara di rak bagian bawah, berjejer kemasan ayam ungkep dengan berbagai varian rasa yang menjadi produk andalan.

Bagi sebagian orang, produk-produk itu mungkin hanya makanan siap saji biasa. Namun bagi perempuan tersebut, setiap kemasan menyimpan cerita panjang tentang proses belajar, jatuh bangun usaha, hingga upaya menjaga kualitas agar tetap dipercaya konsumen. Ia tampak begitu detail menjelaskan produknya. 

Sesekali tangannya menunjuk sambal kemasan yang telah diproduksi dalam jumlah besar. Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan ketika ia berbicara mengenai bahan baku, proses produksi, hingga standar kebersihan yang diterapkan.

Kebanggaan itu semakin terasa ketika kamera menyorot sebuah sertifikat yang terpajang di dinding ruangan. Sertifikat Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dari lembaga sertifikasi internasional menjadi penanda bahwa usaha kecil tersebut tidak lagi dikelola secara sederhana. 

Ada standar mutu dan keamanan pangan yang kini dijaga secara serius. Sertifikat itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang sebuah usaha lokal untuk naik kelas.

Di luar bangunan, sebuah spanduk tergantung dengan bertuliskan “Rumah Makan Ayam Ungkep Ibu Yuli” terlihat mencolok di bagian depan ruko. Tempat itu bukan sekadar rumah makan sejak digunakan pada 2022. Melainkan, ruko ini merupakan pusat produksi yang perlahan berkembang menjadi identitas usaha kuliner lokal Pekanbaru.

Di balik semua itu, ada seorang perempuan yang terus berdiri di antara rak-rak produknya, menjaga mimpi agar tetap hidup dari dapur sederhana di sudut Kota Pekanbaru. Perempuan itu bernama Yuli Meliani.

Gerai itu dikenal dengan nama Sangsa. Nama Sangsa dipilih tanpa alasan. 

Nama itu berasal dari salah seorang raja Melayu bernama Sangsa Purba. Sedangkan merek sambal goreng yang dijual diberi nama Empat Sungai. Karena, empat sungai besar di Riau adalah urat nadi kehidupan masyarakat, petani, dan peternak yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai usaha yang ia bangun.

“Dari hulu sampai hilir, kami memakai bahan lokal,” ujar Yuli.

Prinsip itu menjadi fondasi utama usahanya. Cabai didatangkan dari petani di Kabupaten Kampar dan kelompok tani lokal lainnya. 

Gula kelapa berasal dari Tembilahan. Ayam kampung dipasok peternak di wilayah Rumbai dan Panam. Bahkan, kulit ikan patin yang biasanya terbuang diolah menjadi kerupuk khas Melayu.

Bagi Yuli, usaha tidak semata-mata tentang keuntungan pribadi. Ia percaya bisnis harus memberi dampak sosial.

Di gerainya, tidak hanya ada produk miliknya sendiri. Berbagai produk UMKM lain juga ikut dipasarkan, mulai dari keripik tempe sagu, Melayu Cracker, hingga aneka kriya (kerajinan tangan) khas Melayu seperti tanjak dan tenun.

“Kalau cuma memikirkan keuntungan sendiri rasanya tidak berkah,” katanya sambil tersenyum.

Semangat berbagi ruang itu membuat gerainya menjelma menjadi rumah bersama bagi pelaku UMKM lokal. Produk-produk dari berbagai daerah di Riau dikumpulkan dalam satu tempat, lalu dipasarkan sebagai oleh-oleh khas daerah.

Tidak kurang dari 400 jenis produk pernah mengisi gerai tersebut, termasuk makanan beku, kuliner tradisional, hingga kerajinan tangan.
Namun di antara ratusan produk itu, sambal Empat Sungai tetap menjadi primadona.

Yuli mengaku terinspirasi dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki sambal khas sebagai identitas kuliner. Manado terkenal dengan sambal roa. Daerah lain memiliki sambal khas masing-masing. 

Kemudian, ia berpikir bahwa Riau juga harus memiliki sambal yang mampu menjadi ikon oleh-oleh. Dari pemikiran itulah lahir Sambal Empat Sungai dengan berbagai varian, termasuk sambal ikan salai patin yang kini menjadi produk andalannya.

“Riau punya produksi patin yang besar. Kenapa tidak kita jadikan sambal khas?” ujarnya.

Inovasi itu ternyata mendapat sambutan luas. Saat ini, produk sambalnya telah dipasarkan di berbagai swalayan modern di Riau. Bahkan, sambal racikannya mulai menembus pasar luar negeri seperti Qatar, Dubai, Kazakhstan, Zimbabwe, hingga Jeddah.

Meski demikian, perjalanan membangun usaha tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga kualitas produk tanpa bahan pengawet.

Yuli memastikan seluruh sambalnya diproduksi melalui proses pasteurisasi dan pengolahan higienis. Bahkan, produknya telah memiliki sertifikasi HACCP, standar keamanan pangan yang dibutuhkan untuk pasar ekspor.

Di ruang produksinya, seluruh pekerja diwajibkan memakai alat pelindung diri lengkap. Proses pengadukan sambal pun telah menggunakan mesin agar standar kebersihan tetap terjaga.

“Kami ingin produk lokal bisa bersaing secara global,” tutur Yuli.

Keseriusannya membangun usaha juga dibarengi dengan kepedulian terhadap petani cabai di Riau. Fluktuasi harga cabai sering kali membuat petani kesulitan. 

Karena itu, ia mencoba membantu dengan membeli hasil panen lokal. Ia juga mengedukasi kelompok tani agar mampu mengolah cabai menjadi produk jadi saat harga turun. Yuli mengajarkan istri-istri petani cara membuat sambal kemasan agar hasil panen tidak terbuang sia-sia.

“Kalau harga cabai murah, bisa diolah menjadi produk akhir seperti ini,” ucapnya sambil menunjukkan botol sambal produksinya.

Baginya, menjaga perputaran ekonomi lokal adalah hal penting. Selama bahan baku dari Riau masih tersedia, ia memilih menggunakan produk lokal dibanding mendatangkannya dari luar daerah.

Di balik perkembangan usahanya, Yuli juga mengakui peran besar pelatihan yang diberikan perbankan, khususnya BRI. Berbagai pelatihan digitalisasi hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bekal baru baginya untuk mengembangkan promosi usaha. Ia masih mengingat bagaimana pertama kali belajar menggunakan AI dalam pelatihan yang diadakan BRI.

“Saya sampai minta pelatihannya diulang karena ingin benar-benar paham,” cerita Yuli sambil tertawa.

Pengetahuan itu kini digunakan untuk membuat promosi digital produknya, termasuk foto-foto menu ayam ungkep yang dipasarkan secara daring. Selain memiliki toko fisik, produk Sambal Empat Sungai juga dipasarkan melalui marketplace dan media digital. Gerainya pun tidak hanya dikenal sebagai rumah makan, tetapi juga pusat oleh-oleh khas Riau saat ini 

Sementara itu, Department Head Ultra Mikro BRI Regional Office Pekanbaru Widia Apriani mengatakan Gerai Sangsa yang dikelola Yuli Meliani menjadi contoh bagaimana UMKM lokal dapat tumbuh melalui kolaborasi. Keunikan gerai tersebut terletak pada konsep pengumpulan berbagai produk UMKM dalam satu tempat dengan bahan baku yang berasal dari kelompok tani lokal.

“Produk yang dijual berasal dari berbagai wilayah di Riau dan dikemas menjadi toko oleh-oleh sekaligus restoran,” ujarnya.

Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, Yuli memilih berjalan dengan cara berbeda. Ia tidak melihat UMKM lain sebagai pesaing, melainkan mitra yang harus tumbuh bersama.

Karena itu, Yuli aktif membina pelaku UMKM sambal lain agar mampu berkembang lebih cepat, mulai dari urusan kemasan, legalitas, hingga pemasaran. Kini, satu per satu produk UMKM binaannya mulai masuk ke gerai oleh-oleh dan pasar modern.

Bagi Yuli, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika produknya dikenal luas, melainkan ketika semakin banyak pelaku usaha kecil ikut tumbuh bersamanya.