Sekolah Tahfiz Al-Fatih Pekanbaru Ingin Bentuk Generasi Saleh, Berilmu, dan Mandiri

12 Mei 2026
Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Sekolah Tahfiz Al-Fatih Pekanbaru berkomitmen membentuk generasi yang tidak hanya saleh dan berilmu. Sekolah ini juga mengajarkan kemandirian secara ekonomi serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

“Generasi yang ingin kami bentuk adalah generasi yang saleh, salehah, beramal, berilmu, tetapi juga memiliki kemampuan ekonomi. Mereka harus bisa menjadi generasi pemberi, bukan generasi yang meminta-minta,” kata Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih, Anton Yuliandri, Selasa (12/5/2026).

Peserta didik diharapkan mampu mewarisi nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan, serta tradisi keilmuan yang kuat. Di sisi lain, peserta didika juga harus memiliki kemampuan untuk menopang kehidupan dan perjuangan secara mandiri.

"Generasi yang baik adalah generasi yang mampu membantu orang lain dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Karena itu, pendidikan di Sekolah Tahfiz Al-Fatih diarahkan agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang dermawan, berkarakter, dan memiliki jiwa kepemimpinan," ucap Anton.

Selain itu, ia juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan potensi diri peserta didik. Ia berharap setiap peserta didik mampu menemukan “fitrah” atau potensi terbaik dalam dirinya sejak usia sekolah.

Banyak orang baru menyadari potensi dan tujuan hidupnya ketika sudah dewasa, bahkan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Karena itu, sekolah berupaya membantu peserta didkk mengenali kekuatan dan minatnya lebih awal.

“Kami ingin peserta didik menemukan potensi dirinya sejak dini. Dengan begitu, ketika memasuki SMA hingga perguruan tinggi, mereka sudah mengetahui arah yang ingin ditempuh dan tidak lagi mencoba-coba,” sebut Anton.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan jiwa kewirausahaan atau entrepreneur bagi peserta didik. Namun, anak tidak semua harus menjadi pengusaha.

Ada peserta didik yang mungkin lebih cocok menjadi aparatur sipil negara (ASN), pekerja sosial, maupun penggerak kegiatan kemanusiaan. Hal terpenting, setiap anak mampu mengenali panggilan dan peran hidupnya masing-masing.

“Kalau memang bukan entrepreneur, tidak masalah. Bisa saja menjadi aparatur sipil negara yang saleh, hafiz, dan bermanfaat. Ada juga yang memang memiliki jiwa sosial tinggi dan terpanggil membantu masyarakat ketika terjadi bencana atau kesulitan,” jelas Anton.

Ia berharap proses pencarian potensi diri tersebut dapat mulai ditemukan sejak tingkat SMP, lalu diperdalam pada jenjang SMA hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, peserta didik memiliki arah hidup yang lebih jelas dan mampu berkembang sesuai kemampuan terbaiknya.