SMP IT Tahfiz Al-Fatih Pekanbaru Hadir untuk Bimbing Remaja Temukan Potensi Diri

12 Mei 2026
Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Berdirinya SMP IT Tahfiz Al-Fatih Pekanbaru dilatarbelakangi keinginan yayasan untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang mampu membimbing remaja menemukan jati diri, potensi, serta arah kehidupan mereka sejak dini. Pendirian SMP tersebut merupakan kelanjutan dari pengembangan pendidikan setelah yayasan lebih dahulu membangun jenjang sekolah dasar.

“Setelah SD kami desain dan berjalan, kemudian tidak lama setelah itu kami mulai merilis SMP IT Tahfiz Al-Fatih,” kata Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih, Anton Yuliandri, Selasa (12/5/2026).

Pelajar SMP berada pada rentang usia 12 hingga 15 tahun yang merupakan masa pencarian identitas diri dan fase pubertas. Pada masa tersebut, anak-anak dinilai membutuhkan figur, arahan, serta pendampingan yang tepat agar energi dan potensi dapat berkembang secara positif.

“Mereka sedang mencari jati diri, mencari tahu ingin menjadi apa di masa depan. Karena itu, mereka membutuhkan panduan dan arahan,” ujar Anton.

Setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang berbeda-beda. Namun, proses menggali karakter dan kemampuan setiap siswa secara mendalam bukan perkara mudah karena membutuhkan tenaga pendidik dengan keterampilan khusus serta pendekatan yang intensif.

Keterbatasan jumlah guru dan kemampuan dalam mengeksplorasi seluruh potensi peserta didik menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan. Karena itu, sekolah menerapkan berbagai pendekatan pembinaan untuk membantu peserta didik mengenali kekuatan dalam dirinya.

“Kalau dari sepuluh anak bisa ditemukan satu potensi besar, itu sudah sangat baik. Sebab setiap anak memiliki keunikan masing-masing,” jelas Anton

SMP IT Tahfiz Al-Fatih dibangun dengan perpaduan pendidikan berbasis Alquran dan pengembangan jiwa kewirausahaan. Konsep tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki pegangan agama sekaligus kesiapan menghadapi kehidupan ekonomi di masa depan.

Alquran dijadikan sebagai panduan utama dalam pembentukan karakter dan arah kehidupan peserta didik. Sementara, pendidikan kewirausahaan diberikan sebagai bekal untuk membangun kemandirian.

“Sekolah ini hadir dengan basis Alquran. Tetapi anak-anak juga diarahkan untuk mengeksplorasi kemampuan kewirausahaan mereka sebagai bekal kehidupan di dunia,” tutur Anton.